Habib Salim Segaf Al-Jufri adalah mantan Menteri Sosial di era Susilo Bambang Yudhoyono dari kader PKS. Namanya menjadi perbincangan hangat setelah digadang-gadang jadi salah satu dari beberapa calon wakil potensial Prabowo Subianto yang akan maju dalam perhelatan Pilpres 2019.
Berbekal doktor agama dari Universitas Islam Madinah mengantarkan Habib Salim Segaf Al-Jufri terjun ke dunia pendidikan dan politik. Mulai dari dosen, dubes, menteri, hingga ketua Majelis Syuro PKS.
Pria kelahiran Surakarta, 17 Juli 1954 ini bukan lagi orang baru di dunia pemerintahan. Habib Salim pernah didapuk sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Arab Saudi dan Kesultanan Oman sejak 2005 selama 4 tahun.
Setelah itu, pria yang mengemban pendidikan S1 hingga S3 di Universitas Islam Madinah, Arab Saudi ini diberi amanah sebagai Menteri Sosial periode 2009-2014 Kabinet Indonesia Bersatu II pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Habib Salim mengabdikan dirinya sebagai dosen pasca sarjana di beberapa universitas salah satunya, UIN Syarif Hidayahtullah. Di kampus tersebut, Ia juga pernah mengajar S1 di jurusan Tafsir-Hadits, Fakultas Ushuluddin.
Suami dari Zaenab Alwi Basri ini pun pernah menjabat sebagai Direktur Syariah Consulting Center dan Direktur Perwakilan WAMY (World Assembly of Muslim Youth) untuk Kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara.
Sempat menduduki posisi Ketua Dewan Syariah PKS, pada tahun 2015 ayah 5 anak ini pun dipercaya sebagai Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera dengan tanggung jawab dapat mempererat ideologi di dalam partai.
Habib Salim adalah cucu dari pejuang pendidikan sekaligus ulama yang berpengaruh di Palu bernama Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri. Ia lebih dikenal dengan sapaan Guru Tua dan dialah pelopor berdirinya Yayasan Al-Khairaat.
Pada tahun 2014, nama Sayyid Idrus bin Salim Al-Jufri bahkan telah digunakan sebagai nama bandara di Palu, Sulawesi Tengah untuk mengenang jasa-jasanya dulu.
Pada tahun 2016, Habib Salim mendapatkan kehormatan menjadi Dewan Penasehat (Mustasyar) Rabithah Alawiyah untuk masa kepengurusan tahun 2016-2021.
Pada tahun 2018, Habib Salim adalah satu dari sembilan calon dari PKS yang akan disandingkan sebagai wakil Prabowo Subianto untuk maju pada pesta demokrasi Pilpres 2019.
Namanya muncul hasil rekomendasi para ulama yang ikut dalam kegiatan Ijtima Ulama yang digelar di Jakarta akhir Juli 2018. Habib Salim pun menyatakan kesiapannya.
Dalam sebuah kongres yang digelar di Turki, Kamis (8/11/2018), Habib Salim Segaf Al Jufri terpilih sebagai Wakil Ketua Persatuan Ulama Muslim Internasional (IUMS). Kongres IUMS diikuti oleh 1.500 peserta ulama dan cendekiawan Muslim dari seluruh penjuru dunia.
KELUARGA
Istri : Zaenab Alwi Basri Anak : 5 anak
PENDIDIKAN
SD Diponegoro Solo tahun 1962
MTs Al-Khairaat, Palu Sulawesi Tengah tahun1969
MA Al-Khairaat, Palu tahun 1972
S1 di Syari’ah Madinah University, Saudi Arabia tahun 1976
S2 di Syari’ah Madinah University, Saudi Arabia tahun 1980
Ph.D di Syari’ah Madinah University, Saudi Arabia tahun 1986
KARIER
Direktur Syariah Consulting Center
Ketua Dewan Syariah PKS
Direktur Perwakilan WAMY (World Assembly of Muslim Youth) untuk Kawasan Asia Timur dan Asia Tenggara tahun 2002
Dosen Pasca Sarjana di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta
Dosen Dirosat Islamiyah Al-Hikmah, Jakarta
Dosen Fakultas Syariah Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA)
Duta Besar Republik Indonesia untuk Kerajaan Arab Saudi dan Kesultanan Oman (2005-2009)
Menteri Sosial Indonesia (2009-2014)
Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (2015-2020)
Dewan Penasehat (Mustasyar) Rabithah Alawiyah (2016-2021)
Wakil Ketua Persatuan Ulama Muslim Internasional (IUMS)
AD ART PKS (Anggaran Dasar Anggaran Rumah Tangga Partai Keadilan Sejahtera 2021 hasil Musyawarah III MS PKS 2 Februari 2021
…..
Paragraf 5
Dewan Pengurus Ranting
Pasal 64
Kepengurusan Dewan Pengurus Ranting sekurang-kurangnya terdiri atas:
a. Ketua; b. Sekretaris; dan c. Bendahara.
Pasal 65
(1) Persyaratan umum: a. memiliki kemampuan yang sesuai dengan tugas dan fungsi Dewan Pengurus Ranting; dan b. menyediakan waktu dan kesempatan yang cukup untuk melaksanakan tugas Dewan Pengurus Ranting.
(2) Persyaratan khusus: a. untuk jabatan Ketua paling sedikit Anggota Madya; b. untuk jabatan Sekretaris paling sedikit Anggota Pratama dengan masa keanggotaan paling sedikit 2 (dua) tahun.
(3) Ketua dan Sekretaris Dewan Pengurus Ranting membuat rancangan struktur kepengurusan untuk ditetapkan oleh Dewan Pengurus Cabang.
Pasal 66
Tugas Dewan Pengurus Ranting sebagai berikut:
a. melaksanakan kebijakan Partai sesuai dengan tugas dan fungsi Dewan Pengurus Ranting;
b. menyusun rencana kerja dan rancangan anggaran pendapatan dan belanja Dewan Pengurus Ranting dan selanjutnya diajukan kepada Dewan Pengurus Cabang;
c. melaksanakan rekrutmen dan kaderisasi;
d. menerima dan mengelola bantuan dari sumber yang tidak bertentangan denganperaturan perundang-undangan;
e. menyampaikan laporan kerja dan kinerja pelaksanaan program dan realisasi anggaran dan keuangan serta perbendaharaan Dewan Pengurus Ranting setiap 6 (enam) bulan kepada Dewan Pengurus Cabang;
f. melaksanakan Musyawarah Ranting atas perintah Dewan Pengurus Cabang; dan
g. menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada Dewan Pengurus Cabang melalui Musyawarah Ranting.
Pasal 67
Ketentuan lebih lanjut mengenai Dewan Pengurus Ranting diatur dalam Panduan Dewan Pengurus Pusat.
Dr. H. Hidayat Nur Wahid, M.A adalah mantan Ketua MPR RI periode 2004-2009 yang juga merupakan politisi Partai Keadilan Sejahtera. Hidayat Nur Wahid (HNW) pada tahun 2012 dicalonkan menjadi Gubernur Jakarta bersama Didik J Rachbini sebagai calon wakil gubernur. Hidayat-Rachbini bersaing dengan calon kuat lainnya yaitu Jokowi-Ahok dan calon incumbent Foke.
Mari kita simak kisah hidup Pak Hidayat...
Hidayat Nur Wahid semasa kecil bercita-cita menjadi dokter. Alasannya sederhana. Karena ingin dirinya dapat membantu sesama. Namun, keikhlasannya menjalani skenario hidup dari Allah membawanya ke dunia yang tak pernah dicita-citakannya, dunia politik. Kendati demikian, tekadnya tak berubah. Di manapun beraktivitas beliau selalu berupaya menjadi bagian dari solusi, bukan justru bagian dari masalah.
Hidayat kecil hidup seperti anak-anak desa lainnya. Bermain di sawah, mencari ikan di sungai dan menggembala ternak. Ayah beliau yang seorang guru berpikir jauh ke depan. Beliau dikirimnya ke pondok pesantren modern Gontor. Rupanya, inilah yang menjadi dasar bagi langkah besar beliau ke masa depan.
Dari Gontor, beliau melanjutkan pendidikannya ke Madinah, Arab Saudi. Sebentar saja di sana. Hanya 13 tahun…
Sepulang dari Madinah, sebetulnya beliau ingin pulang dan mengamalkan ilmunya di Yogyakarta, dekat dengan kampung kelahiran di Prambanan. Namun, teman-temannya di Jakarta mencegatnya, mereka membutuhkan peran beliau.
Di Jakarta, beliau pun serius beraktivitas sebagai tenaga pengajar di UIN Syarif Hidayatullah, Universitas Muhammadiyah dan Universitas Islam Asy Syafiiyah. Tampaknya Allah punya skenario lain. Rekan-rekan beliau yang semula membuat LSM, kemudian mendirikan partai. Tunduk pada keputusan musyawarah, beliau pun didaulat menjadi deklarator Partai Keadilan (PK).
Berawal di PK inilah beliau berkiprah di dunia politik yang terkenal kejam, penuh intrik dan secara salah kaprah dianggap sebagai dunia yang kotor dan menghalalkan segala cara. Namun, politik tidak mengubah prinsip hidup beliau yang dipegangnya sejak kecil. Beliau bertekad menjadikan politik sebagai bagian dari solusi permasalahan bangsa. Bukan sebaliknya, menjadikan politik sebagai sumber masalah bagi bangsa.
Kiprah Hidayat Nur Wahid di Partai Keadilan (PK) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) terus menanjak. Bahkan, beliau pernah dua kali menjadi “Presiden”. Yakni, Presiden (ketua) PK dan PKS. Beliau juga menunjukkan prestasi yang luar biasa. Di bawah kepemimpinannya, PKS berhasil meraih suara 7,3% pada Pemilu 2004. Padahal, dalam Pemilu sebelumnya (1999), PK baru mendapat 1,53 persen suara. Beliau juga menjadi salah satu anggota DPR periode 2004-2009 yang terpilih dengan suara melebihi Bilangan Pembagi Pemilih (BPP). Hal ini menunjukkan bahwa beliau adalah figur yang siap mengemban amanah apapun dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi tinggi.
Kemampuannya sebagai pemimpin juga diperlihatkan ketika menjadi Koordinator Lapangan aksi sejuta umat menentang agresi Amerika Serikat ke Irak pada tahun 2003. Aksi yang diikuti dari beragam komponen masyarakat itu berlangsung dengan tertib dan damai.
Hidayat Nur Wahid juga pembelajar yang cepat. Beliau belajar dengan maksimal di mana saja mendapat amanah tugas, termasuk ketika terpilih sebagai Ketua MPR periode 2004-2009. Beliau mengaku, dulu tak akrab dengan Undang-Undang Dasar. Tetapi kini UUD 1945 dihafalnya luar kepala. Ini karena beliau selalu berprinsip, “Apapun amanah yang didapat, dia akan mengerjakannya dengan maksimal”.
Beliau dengan cepat dikenal sebagai politisi yang senantiasa mengedepankan moralitas. Selaras dengan profilnya yang sederhana, low profile dan tawadhu (rendah hati). Sosok Hidayat Nur Wahid sebagai pribadi dan pemimpin berjiwa sosial sudah sangat dikenal masyarakat. Beliau selalu terlibat aktif dalam berbagai aktivitas sosial dan peduli korban bencana. Sebut saja bencana banjir ibukota, tsunami Aceh, gempa Yogya dan Jateng serta lokasi-lokasi bencana lainnya. Sebut juga aktivitasnya dalam menyantuni anak-anak yatim, pembangunan masjid dan pesantren, pemberian beasiswa bagi pelajar tak mampu dan berbagai aktivitas sosial lainnya.
Sebagai Dai, saat ini Hidayat Nur Wahid berperan sentral dalam pembangunan Masjid Raya Al Muttaqun, Prambanan, Klaten. waktu Idul Adha 1429 H lalu, beliau menjadi imam sekaligus khatib di Alun-alun Klaten. Tanpa canggung, beliau pun menyembelih sendiri dua ekor sapi kurban. Sebelumnya, ketika Idul Fitri 1429 H di Boyolali, dia juga menyampaikan khutbah di hadapan ribuan jamaah. Hingga sampai saat ini, Hidayat Nur Wahid juga masih aktif mengisi khutbah Jumat di masjid-masjid serta mengisi acara-acara kajian Islam di stasiun-stasiun televisi.
Kepedulian Hidayat Nur Wahid terhadap keutuhan NKRI yang berdasarkan Pancasila juga tak diragukan lagi. Dalam berbagai kesempatan beliau selalu menegaskan: “Pancasila dan NKRI adalah kesepakatan final bangsa Indonesia”. Begitu pula komitmennya pada UUD ’45, beliau selalu menyatakan sebagai pihak yang berada di garda terdepan untuk mempertahankannya.
Hidayat Nur Wahid juga diterima tokoh-tokoh internasional. Sejumlah seminar, dialog dan forum-forum diskusi tingkat internasional dihadirinya. Mulai dari dialog agama di Makkah, dialog antaragama di Madrid, Spanyol, seminar isu-isu kontemporer dengan Lee Kuan Yew di Singapura hingga konferenesi internasional Amerika dan Islam di Doha, Qatar.
13 tahun menuntut ilmu di Madinah, Arab Saudi tidak membuat beliau tercerabut dari akar budaya Jawa. Hidayat Nur Wahid tetaplah Wong Jowo yang suka Wayang, beliau bahkan mengidolakan tokoh Kresna. Alasannya, Kresna adalah sosok pemimpin yang bijak, mengayomi, menjaga persatuan dan bisa mencari solusi bagi setiap masalah.
Di rumah orangtuanya di Kadipaten, Kebondalem Kidul, Prambanan, Klaten, beliau menyimpan hingga tiga buah wayang Kresna bersama kitab-kitab kuning. Kecintaan pada wayang ditunjukkan dengan kesediaannya menjadi Anggota Dewan Pembina Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) dan hadir membuka festival wayang internasional pertama di Surabaya.
Hidayat Nur Wahid kini tak lagi hanya milik PKS. Beliau sudah menjadi milik bangsa. Makin banyak kalangan yang merasa turut “memiliki” nya. Beliau dengan gembira menyambut siapa saja untuk turut bersamanya berjuang demi bangkitnya kembali Indonesia.
Sebagai wujud cinta tanah kelahiran, hingga kini beliau masih di beri amanah sebagi anggota Legislatif di Dapil DKI Jakarta II. Tekadnya tetap sama, yakni berusaha memaksimalkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat melalui kewenangan sebagai anggota dewan untuk menyusun anggaran, mengontrol eksekutif dan membuat UU yang berpihak pada keadilan dan kesejahteraan rakyat. (sumber : bio.or.id)
Dr. H. MUHAMMAD HIDAYAT NUR WAHID, M.A.
PROFIL Dr. H. MUHAMMAD HIDAYAT NUR WAHID, M.A.
Tempat/tgl Lahir : Klaten / 08 April 1960
Facebook : Hidayat Nur Wahid Twitter : @hnurwahid Instagram : @hnwahid Youtube: Hidayat Nur Wahid
Keluarga Istri: dr Diana Abbas Thalib. MArs Anak: 5 Laki-Laki dan 2 Perempuan
Riwayat Pendidikan SDN Kebondalem Kidul I, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah. Tamat 1972 Pondok Pesantren Walisongo, Ngabar, Ponorogo, Jawa Timur. 1973 Pondok Pesantren Modern Darussalam, Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Tamat 1978 IAIN Sunan Kalijaga, Fakultas Syari’ah, Yogyakarta, 1979. Universitas Islam Madinah, Fakultas Dakwah dan Ushuluddin, Saudi Arabia; Skripsi “Mauqif Al-Yahud Min Islam Al Anshar” (Sarjana), tamat 1983. Program Master Universitas Islam Madinah, Departemen Aqidah Thesis “Al Bathiniyyaun Fii Indonesia, ‘Ardh wa Dirosah”. (Master), tamat 1987. Program Doktor, Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia. Tamat 1992.
Riwayat Pekerjaan Wakil Ketua MPR RI 2014 – 2019 dan 2019-2024. Wakil Ketua Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera 2015-2020 dan 2020-2025 Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera DPR RI. 2012 – 2014. Ketua Badan Kerjasama Antar-Parlemen DPR RI, 2009 – 2012 Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat, Republik Indonesia 2004 – 2009. Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta Dosen Pascasarjana IAIN Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta Dosen Pascasarjana Universitas Islam Asy – Syafiiyah, Jakarta.
– Riwayat Organisasi Anggota PII, 1973 Andalan Koordinator Pramuka Gontor Bidang kesekretariatan, 1977 – 1978 Training HMI IAIN Yogyakarta, 1979 Sekretaris MIP PPI Madinah, Arab Saudi, 1981 – 1983 Ketua PPI Arab Saudi, 1983 – 1985 Ketua Yayasan Al-Haramain, 1994 Deklarator PK (1998). Ketua MPP PK (1998-1999). Presiden PK & PKS (2000-2004). Ketua FPKS DPRRI (2012-2014). Wakil Ketua Majlis Syura PKS (2015-2025). Ketua Majlis Tahkim/Mahkamah Partai (2016-2021). Wakil Ketua Dewan Penasehat ICMI Pusat Ketua Dewan Penasehat IKADI Ketua Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor Anggota Dewan Penasehat KAICIID (King Abdullah bin Abdulaziz International Centre for Interreligious and Intercultural Dialogue), Wina, Austria Anggota Majelis Tinggi Muslim World League, Makkah Al-Mukarramah, Arab Saudi Tanda Penghargaan
– Bintang Penghargaan: Mahaputera Adi Pradana (2008)
Pagi ini seperti biasa, setelah menyiapkan diri dan keluarga, ‘Bisbmillahi tawakkaltu’ kita keluar rumah untuk ke sekolah
Baru keluar gang mobil kami menuju jalan kembar besar samping muhammadiyah manukan yg alhamdulillah mulai bebas kemacetan, kanan jalan kami lihat ada sesosok jenazah yang sdh tertutup kain di tengah jalan. Rupanya korban kecelakaan. Innalillahi wa innaa ilahi rojiun
Mobil tetap berjalan dengan hati-hati sambil diskusi sama krucil2 soal berkendara yang aman. Jarak berapa ratus meter, kami melihat pemandangan korban kecelakaan motor kembali, korban lebih beruntung masih bisa duduk walaupun lemas kelihatannya. Sekali lagi ‘innaa lillahi wa innaa ilaihi rojiun’.
Diskusi dengan krucil terus berjalan, seiring mobil kami yang tetap melaju dengan kewaspadaan tinggi. Sampai kemudian….
Kami melihat ada seorang pengendara motor dari jauh yang mengambil lajur kami, bayangan kami dia akan menepi saat mobil kami mendekat, tapi ternyata…
Dugh… Brak… Sret….duer…
Mobil beserta pengendara motor menabrak mobil kami, mobil masuk kolong tapi alhamdulillah pengendara reflek melompat sejalan suami yang juga mengerem mendadak mobil.
Innalillahi innalillahi… Allahu Akbar…, sambil lihat wajah krucil yang kembali tegang, setelah suami turun dan membantu pengendara dan motornya ke tepi jalan, kami cuman bisa bersyukur sekali lagi atas kejadian pagi ini sembari mendengar suara degup jantung yang berbunyi.. Dug dug dug
Sampai sekolah, kami sempat cerita ke penjaga sekolah, sambil akhirnya duduk dikantor dengan 2 krucil yang masih tegang Mulailah kubuka percakapan Ummi : Tadi kita lihat apa ya di jalan? Askar : Diam bengong tanpa kata Fatih : Otor jatuh, otor jatuh… Ummi : Ya motor jatuh, trus kita ga papa bilang apa harusnya (jawaban yg diminta harusnya alhamdulillah) Fatih : Aaf Aaf, acih minum (maaf maaf kasih minum) Ummi : MasyaAllah ya betul. Anak bungsuku ternyata merekam situasi kepedulian yang kita gambarkan saat kejadian itu, dimana abinya turun menolong sang bapak, saya meminta kakaknya untuk beri minum. Ummi : Oke setelah itu kita semua selamat ya ga sakit, kita bilang alhamdulillah sama sama yuk Fatih Askar : Alhamdulillah
Gambar ilustrasi
Bermain lagilah mereka seperti tidak pernah terjadi apa apa, di saat saya masih mencari ayat cinta dari Allah soal musibah.
(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata “Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un” (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali) QS. Al-Baqarah Ayat 156
Pukul 16.00 , mobil mulai membawa kami pulang, dan sebelum keluar jalan raya, mas Askar memberi pesan ke abinya “bi jangan nabrak lagi loh ya”
Nyes hati ini sembari berdoa, semoga lancar sampai ke rumah, hafiznaa ya Rabb
Anak anak kita yang akrab dengan masjid akan menjadi penerus kebaikan kita di masa depan
Di masjid, anak anak akan belajar bersosialisasi, belajar berketerampilan hidup, belajar bertanggungjawab atas diri dan lingkungannya, belajar kepemimpinan dan politik, dan belajar melatih otot, otak serta hatinya untuk meletakkan islam di atas segala syahwat nya.
Seperti itulah RosuluLLAH saw membentuk para sahabat muda di masjid.
Dan itu sangat dibenci oleh para orientalis, sekularis, dan hipokrit. Karena itu mereka bekerja secara sistematis untuk menjauhkan fungsi masjid seperti di jaman nabi dengan berbagai alasan, untuk menjaga kekompakan, untuk menjaga perpecahan.
Dan (di antara orang-orang munafik itu) ada yang mendirikan masjid untuk menimbulkan bencana (pada orang-orang yang beriman), untuk kekafiran dan untuk memecah belah di antara orang-orang yang beriman serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka dengan pasti bersumpah, “Kami hanya menghendaki kebaikan.” Dan Allah menjadi saksi bahwa mereka itu pendusta (dalam sumpahnya). [Surat At-Taubah 107]
Dan Mereka tak ragu mengeluarkan uang yang banyak untuk membangun masjid, selama masjid digunakan hanya untuk sholat dan “membaca al-qur’an” saja tapi menjauhkan memahami dan mengamalkan alquran dalam ipoleksosbudhankam.
Perumpamaan harta yang mereka infakkan di dalam kehidupan dunia ini, ibarat angin yang mengandung hawa sangat dingin, yang menimpa tanaman (milik) suatu kaum yang menzhalimi diri sendiri, lalu angin itu merusaknya. Allah tidak menzhalimi mereka, tetapi mereka yang menzhalimi diri sendiri. [Surat Ali ‘Imran 117]
Di Tengah Konsolidasi Partai Pendukung Pemerintah, PKS Justru Semakin Mantap Beroposisi
Presiden Jokowi mengundang ketua-ketua umum partai politik pendukung pemerintah ke istana negara pekan lalu (25/8). Hal ini dibaca sebagai upaya konsolidasi partai koalisi pendukung Jokowi. Apalagi PAN juga ikut bergabung sebagai mitra baru dalam koalisi. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ketika ditanya perihal pertemuan tersebut menyatakan biasa saja.
Ketua Fraksi PKS DPR Jazuli Juwaini menyatakan PKS tetap memilih untuk menjadi oposisi. Bahkan melihat dan mengevaluasi jalannya pemerintahan di bawah Presiden Jokowi 7 tahun terakhir, PKS mengatakan justru semakin mantap beroposisi.
“Jangan ragukan sikap oposisi PKS. Sejak awal kami sampaikan oposisi hadir untuk menjaga demokrasi, menghadirkan check and balances agar pemerintahan tetap on the track berpihak kepada kepentingan rakyat. Kami juga ingin menjaga kehormatan partai-partai yang sejak awal berjuang mendukung Pak Jokowi. Fair kan?,” tandas Jazuli.
Anggota Komisi I DPR Dapil Banten ini mengatakan PKS konsisten memerankan oposisi yang konstruktif dalam mengawal jalannya pemerintahan dengan kritik yang membangun. Sayangnya, selama 7 tahun pemerintahan Pak Jokowi Indonesia belum menampakkan kemajuan signifikan. Oleh karena itu, bukan hanya PKS tetap menjadi oposisi tapi PKS justru semakin mantap beroposisi.
“Kami melakukan evaluasi pemerintahan Pak Jokowi setiap tahun. Tiap pemerintahan tentu punya tantangannya sendiri, tapi harus tetap ada ukuran atau parameter objektif yang digunakan sebagai patokan. Dari empat bidang yang kita evaluasi, hasilnya tidak menggembirakan. Makanya kita mantap terus beroposisi secara subtantif,” terang Jazuli.
Evaluasi Fraksi PKS Terhadap Pemerintahan Jokowi
Pertama, di bidang ekonomi, PKS menilai pemerintahan saat ini belum mampu mengatasi permasalahan struktural ekonomi sehingga lebih berpihak pada rakyat atau ekonomi kerakyatan sebagaimana amanat Pasal 33 dan 34 UUD 1945. Akibatnya puluhan tahun Indonesia tidak beranjak status sebagai negara berkembang. Indonesia terjebak dalam perangkap negara berpendapatan menengah (middle income trap), bahkan dalam penilaian Bank Dunia (2021) negara kita turun peringkat menjadi negara berpenghasilan menengah-bawah (lower middle income country).
Angka kemiskinan dan pengangguran masih sangat tinggi apalagi setelah dihantam pandemi. Data BPS Maret 2021 kemiskinan di angka 10,14 % atau setara 27,54 juta. Kesenjangan atau disparitas ekonomi rakyat dan wilayah juga masih sangat lebar. Laporan TNP2K tahun 2019 mencatat 1% orang kaya Indonesia menguasai 50% aset nasional. Jika dinaikkan 10% maka aset yang dikuasi menjadi 70%. Artinya 90% orang Indonesia berebut 30% aset nasional. Selanjutnya, kebijakan importasi masih dominan dalam sejumlah komoditas khususnya di sektor pangan, manufaktur dan energi.
Utang luar negeri terus bertambah dan menjadi beban generasi yang akan datang. Bahkan, Badan Pemeriksa Keuangan berdasarkan audit LKKP 2020 telah mengingatkan bahwa utang pemerintah sudah melampaui batas dan kapasitas pengembalian dibanding potensi pendapatan. Di sisi lain, arah untuk mewujudkan kedaulatan bagi petani, nelayan, pekerja, sdm lokal, serta produk-produk dalam negeri tidak terlihat konsisten, kebijakan hulu dan hilirnya acapkali tidak nyambung. Kita negara kaya sumber daya alam, hasil bumi dan hasil laut tapi tiap tahun pemerintah masih impor beras hingga garam.
Kedua, di bidang politik dan penegakan hukum yang berkeadilan rapor pemerintah juga tidak menggembirakan. Lembaga internasional The Economist Intellegence Unit (2020) menilai terjadi penurunan indeks demokrasi Indonesia terendah selama 14 tahun terakhir. Merosot ke posisi 64 dari 167 negara. Posisi Indonesia di kawasan Asia Tenggara Indonesia di bawah Malaysia, Thailand, dan negara baru eks wilayah kita Timor Leste. Menurut banyak akademisi dan masyarakat sipil, hal ini tidak lepas dari iklim kebebasan berpendapat yang dirasakan ada pengekangan, ada kecenderungan perbedaan pendapat disikapi secara reaktif dan represif.
Kelompok-kelompok kritis merasa dikriminalisasi. Ada persepsi ketidakadilan dalam perlakuan antara kelompok kritis dengan mereka yang kerap membela pemerintah. Ditambah lagi sikap dan perilaku buzzer yang agresif sehingga acapkali menimbulkan segregasi dan alienasi yang mengarah pada disharmoni sosial dan konflik terbuka. Kita juga masih tersandra kasus-kasus korupsi, konflik kepentingan pengisian jabatan publik dan BUMN, pelanggaran etik dan kepatutan, serta sejumlah praktik maladministrasi, data yang tidak vakid dan akurat, hingga maraknya kasus kebocoran data pribadi.
Ketiga, di bidang pengembangan SDM dan daya saing bangsa, peringkat kita masih di bawah dan kalah dibandingkan sejumlah negara kecil di kawasan. Indeks Pembangunan Manusia kita peringkat 107 dari 189 negara (UNDP, 2020). Daya Saing Global kita peringkat 50, kalah dengan negara-negara kecil di kawasan seperti Singapura, Malaysia, Thailand (WEF, 2019). Perguruan tinggi kita peringkatnya juga kalah dibanding PT di Singapura, Malaysia, Filipina, Brunei, juga Thailand (THE, 2021). Kita juga dihantui kekhawatiran gagal dalam menangkap peluang bonus demografi dalam sepuluh tahun ke depan.
Keempat, di bidang ideologisasi dan pengamalan nilai-nilai Pancasila dan UUD 1945. Kita semua berharap komitmen kebangsaan makin kokoh dan tidak hanya lip service atau sloganistik. Sayangnya dalam periode pemerintahan Pak Jokowi kita justru dihadapkan pada narasi-narasi yang tidak produktif, alienatif, segregatif, bahkan terkesan menghadap-hadapkan sesama anak bangsa dan kebhinekaan. Munculnya klaim “aku pancasila, aku NKRI”, merasa paling Pancasilais dan paling NKRI sambil menunjuk kelompok yang berbeda tidak Pancasilais dan tidak NKRI. Munculnya RUU Haluan Ideologi Pancasila yang justru mereduksi sila-sila Pancasila, hingga adanya nuansa-nuansa membenturkan antara agama dan Pancasila, antara Islam dan nasionalisme. Padahal sebagai bangsa dengan banyak problematika dan tantangan kita membutuhkan persatuan, sinergi, kolaborasi dan solidaritas sosial nasional.
Visi Oposisi PKS
“PKS sebagai oposisi ingin menjadikan kedaulatan bangsa dalam berbagai dimensinya sebagai visi nasional karena ini syarat negara kita bisa maju dan keluar dari jebakan middle income trap atau negara berkembang selamanya. Untuk itu diperlukan komitmen kebangsaan yang kuat dan kerja-kerja kolektif seluruh elemen bangsa,” ungkap Jazuli.
Bagaimana ekonomi kita berdaulat, rakyat lepas dari kemiskinan, kesenjangan semakin flat, artinya tingkat ekonomi dan distribusi kekayaan semakin merata di masyarakat. Pembangunan tidak bergantung pada utang luar negeri yang terus bertambah tetapi pada kekuatan kolektif bangsa.
Lalu bagaimana SDM kita bisa berdaya di negeri sendiri, dapat bersaing di tingkat global. Petani, nelayan, umkm, pengusaha dan pekerja kita (buruh dan karyawan) menjadi tuan rumah di negeri sendiri, menghadirkan kedaulatan pagan, energi, dan produk dalam negeri.
Produk dalam negeri kita juga semakin kompetitif di pasar ekspor, sebaliknya kita mampu menekan laju importasi pangan, energi, dan produk-produk asing yang sebenarnya bisa kita produksi sendiri, kita adakan sendiri dengan melimpahnya bahan baku hasil bumi, laut, sumber daya alam dan energi kita.
Di ranah sosial politik, PKS ingin menghadirkan politik yang bermartabat dan demokrasi yang sehat dan subtantif. Perbedaan pendapat hal biasa dan dapat ditengahi dengan dialog dan musyawarah. Merangkul bukan memukul. Terus mengembangkan silaturahim kebangsaan dengan seluruh elemen dalam rangka mengokohkan persatuan, kerjasama, sinergi dan kolaborasi. Serta mengokohkan konsensus nasional yaitu Pancasila dan UUD 1945 sebagai kesepakatan bersama.
“Harapan-harapan tersebut belum mampu diwujudkan oleh pemerintahan Pak Jokowi selama dua periode ini, karenanya PKS semakin mantap beroposisi untuk mengawal dan mengoreksi jalannya pemerintahan. Mendorong pemerintah merealisasikan transformasi struktural ekonomi yang lebih berpihak pada rakyat dan kemandirian nasional,” pungkas Jazuli.
Berbagi Paket Bingkisan Bahan Makanan Jumat, 3 sep 2021
Paket bingkisan kami antar
Syarat dan ketentuan Penerima Manfaat:
Domisili di kel. Tandes, Karangpoh atau Balongsari
Memilki KTA PKS
Kirim alamat pengantaran beserta foto KTA PKS ke no wa 0877-0441-5286 sebelum hr jumat pkl 07.00
Proses pengantaran paket bingkisan kami mulai pukul 7.30
➡️ Insyaallah sesuai rencana, kegiatan Jumat Berkah ini di adakan rutin setiap pekan. ➡️ Monggo bantu share ke saudara, teman, atau tetangga ➡️ Atau bisa dimanfaatkan sendiri lalu teruskan/disampaikan kepada yang lebih membutuhkan di sekitar sampean. ➡️ Belum punya KTA PKS? bisa daftar melalui daftar.pks.id atau hubungi 😉mas sandi wa.me/628961713363 😉