BIOGRAFI Dr. H. MUHAMMAD HIDAYAT NUR WAHID, M.A.

Dr. H. Hidayat Nur Wahid, M.A adalah mantan Ketua MPR RI periode 2004-2009 yang juga merupakan politisi Partai Keadilan Sejahtera. Hidayat Nur Wahid (HNW) pada tahun 2012 dicalonkan menjadi Gubernur Jakarta bersama Didik J Rachbini sebagai calon wakil gubernur. Hidayat-Rachbini bersaing dengan calon kuat lainnya yaitu Jokowi-Ahok dan calon incumbent Foke.


Mari kita simak kisah hidup Pak Hidayat...

Hidayat Nur Wahid semasa kecil bercita-cita menjadi dokter. Alasannya sederhana. Karena ingin dirinya dapat membantu sesama. Namun, keikhlasannya menjalani skenario hidup dari Allah membawanya ke dunia yang tak pernah dicita-citakannya, dunia politik. Kendati demikian, tekadnya tak berubah. Di manapun beraktivitas beliau selalu berupaya menjadi bagian dari solusi, bukan justru bagian dari masalah.

Hidayat kecil hidup seperti anak-anak desa lainnya. Bermain di sawah, mencari ikan di sungai dan menggembala ternak. Ayah beliau yang seorang guru berpikir jauh ke depan. Beliau dikirimnya ke pondok pesantren modern Gontor. Rupanya, inilah yang menjadi dasar bagi langkah besar beliau ke masa depan.

Dari Gontor, beliau melanjutkan pendidikannya ke Madinah, Arab Saudi. Sebentar saja di sana. Hanya 13 tahun…

Sepulang dari Madinah, sebetulnya beliau ingin pulang dan mengamalkan ilmunya di Yogyakarta, dekat dengan kampung kelahiran di Prambanan. Namun, teman-temannya di Jakarta mencegatnya, mereka membutuhkan peran beliau.

Di Jakarta, beliau pun serius beraktivitas sebagai tenaga pengajar di UIN Syarif Hidayatullah, Universitas Muhammadiyah dan Universitas Islam Asy Syafiiyah. Tampaknya Allah punya skenario lain. Rekan-rekan beliau yang semula membuat LSM, kemudian mendirikan partai. Tunduk pada keputusan musyawarah, beliau pun didaulat menjadi deklarator Partai Keadilan (PK).

Berawal di PK inilah beliau berkiprah di dunia politik yang terkenal kejam, penuh intrik dan secara salah kaprah dianggap sebagai dunia yang kotor dan menghalalkan segala cara. Namun, politik tidak mengubah prinsip hidup beliau yang dipegangnya sejak kecil. Beliau bertekad menjadikan politik sebagai bagian dari solusi permasalahan bangsa. Bukan sebaliknya, menjadikan politik sebagai sumber masalah bagi bangsa.

Kiprah Hidayat Nur Wahid di Partai Keadilan (PK) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) terus menanjak. Bahkan, beliau pernah dua kali menjadi “Presiden”. Yakni, Presiden (ketua) PK dan PKS. Beliau juga menunjukkan prestasi yang luar biasa. Di bawah kepemimpinannya, PKS berhasil meraih suara 7,3% pada Pemilu 2004. Padahal, dalam Pemilu sebelumnya (1999), PK baru mendapat 1,53 persen suara. Beliau juga menjadi salah satu anggota DPR periode 2004-2009 yang terpilih dengan suara melebihi Bilangan Pembagi Pemilih (BPP). Hal ini menunjukkan bahwa beliau adalah figur yang siap mengemban amanah apapun dengan penuh tanggung jawab dan dedikasi tinggi.

Kemampuannya sebagai pemimpin juga diperlihatkan ketika menjadi Koordinator Lapangan aksi sejuta umat menentang agresi Amerika Serikat ke Irak pada tahun 2003. Aksi yang diikuti dari beragam komponen masyarakat itu berlangsung dengan tertib dan damai.

Hidayat Nur Wahid juga pembelajar yang cepat. Beliau belajar dengan maksimal di mana saja mendapat amanah tugas, termasuk ketika terpilih sebagai Ketua MPR periode 2004-2009. Beliau mengaku, dulu tak akrab dengan Undang-Undang Dasar. Tetapi kini UUD 1945 dihafalnya luar kepala. Ini karena beliau selalu berprinsip, “Apapun amanah yang didapat, dia akan mengerjakannya dengan maksimal”.

Beliau dengan cepat dikenal sebagai politisi yang senantiasa mengedepankan moralitas. Selaras dengan profilnya yang sederhana, low profile dan tawadhu (rendah hati). Sosok Hidayat Nur Wahid sebagai pribadi dan pemimpin berjiwa sosial sudah sangat dikenal masyarakat. Beliau selalu terlibat aktif dalam berbagai aktivitas sosial dan peduli korban bencana. Sebut saja bencana banjir ibukota, tsunami Aceh, gempa Yogya dan Jateng serta lokasi-lokasi bencana lainnya. Sebut juga aktivitasnya dalam menyantuni anak-anak yatim, pembangunan masjid dan pesantren, pemberian beasiswa bagi pelajar tak mampu dan berbagai aktivitas sosial lainnya.

Sebagai Dai, saat ini Hidayat Nur Wahid berperan sentral dalam pembangunan Masjid Raya Al Muttaqun, Prambanan, Klaten. waktu Idul Adha 1429 H lalu, beliau menjadi imam sekaligus khatib di Alun-alun Klaten. Tanpa canggung, beliau pun menyembelih sendiri dua ekor sapi kurban. Sebelumnya, ketika Idul Fitri 1429 H di Boyolali, dia juga menyampaikan khutbah di hadapan ribuan jamaah. Hingga sampai saat ini, Hidayat Nur Wahid juga masih aktif mengisi khutbah Jumat di masjid-masjid serta mengisi acara-acara kajian Islam di stasiun-stasiun televisi.

Kepedulian Hidayat Nur Wahid terhadap keutuhan NKRI yang berdasarkan Pancasila juga tak diragukan lagi. Dalam berbagai kesempatan beliau selalu menegaskan: “Pancasila dan NKRI adalah kesepakatan final bangsa Indonesia”. Begitu pula komitmennya pada UUD ’45, beliau selalu menyatakan sebagai pihak yang berada di garda terdepan untuk mempertahankannya.

Hidayat Nur Wahid juga diterima tokoh-tokoh internasional. Sejumlah seminar, dialog dan forum-forum diskusi tingkat internasional dihadirinya. Mulai dari dialog agama di Makkah, dialog antaragama di Madrid, Spanyol, seminar isu-isu kontemporer dengan Lee Kuan Yew di Singapura hingga konferenesi internasional Amerika dan Islam di Doha, Qatar.

13 tahun menuntut ilmu di Madinah, Arab Saudi tidak membuat beliau tercerabut dari akar budaya Jawa. Hidayat Nur Wahid tetaplah Wong Jowo yang suka Wayang, beliau bahkan mengidolakan tokoh Kresna. Alasannya, Kresna adalah sosok pemimpin yang bijak, mengayomi, menjaga persatuan dan bisa mencari solusi bagi setiap masalah.

Di rumah orangtuanya di Kadipaten, Kebondalem Kidul, Prambanan, Klaten, beliau menyimpan hingga tiga buah wayang Kresna bersama kitab-kitab kuning. Kecintaan pada wayang ditunjukkan dengan kesediaannya menjadi Anggota Dewan Pembina Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) dan hadir membuka festival wayang internasional pertama di Surabaya.

Hidayat Nur Wahid kini tak lagi hanya milik PKS. Beliau sudah menjadi milik bangsa. Makin banyak kalangan yang merasa turut “memiliki” nya. Beliau dengan gembira menyambut siapa saja untuk turut bersamanya berjuang demi bangkitnya kembali Indonesia.

Sebagai wujud cinta tanah kelahiran, hingga kini beliau masih di beri amanah sebagi anggota Legislatif di Dapil DKI Jakarta II. Tekadnya tetap sama, yakni berusaha memaksimalkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat melalui kewenangan sebagai anggota dewan untuk menyusun anggaran, mengontrol eksekutif dan membuat UU yang berpihak pada keadilan dan kesejahteraan rakyat.
(sumber : bio.or.id)


Dr. H. MUHAMMAD HIDAYAT NUR WAHID, M.A.

PROFIL
Dr. H. MUHAMMAD HIDAYAT NUR WAHID, M.A.


Tempat/tgl Lahir : Klaten / 08 April 1960

Facebook : Hidayat Nur Wahid
Twitter : @hnurwahid
Instagram : @hnwahid
Youtube: Hidayat Nur Wahid

Keluarga
Istri: dr Diana Abbas Thalib. MArs
Anak: 5 Laki-Laki dan 2 Perempuan

Riwayat Pendidikan
SDN Kebondalem Kidul I, Prambanan, Klaten, Jawa Tengah. Tamat 1972
Pondok Pesantren Walisongo, Ngabar, Ponorogo, Jawa Timur. 1973
Pondok Pesantren Modern Darussalam, Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Tamat 1978
IAIN Sunan Kalijaga, Fakultas Syari’ah, Yogyakarta, 1979.
Universitas Islam Madinah, Fakultas Dakwah dan Ushuluddin, Saudi Arabia;
Skripsi “Mauqif Al-Yahud Min Islam Al Anshar” (Sarjana), tamat 1983.
Program Master Universitas Islam Madinah, Departemen Aqidah Thesis “Al
Bathiniyyaun Fii Indonesia, ‘Ardh wa Dirosah”. (Master), tamat 1987.
Program Doktor, Universitas Islam Madinah, Saudi Arabia. Tamat 1992.

Riwayat Pekerjaan
Wakil Ketua MPR RI 2014 – 2019 dan 2019-2024.
Wakil Ketua Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera 2015-2020 dan 2020-2025
Ketua Fraksi Partai Keadilan Sejahtera DPR RI. 2012 – 2014.
Ketua Badan Kerjasama Antar-Parlemen DPR RI, 2009 – 2012
Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat, Republik Indonesia 2004 – 2009.
Dosen Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Jakarta
Dosen Pascasarjana IAIN Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta
Dosen Pascasarjana Universitas Islam Asy – Syafiiyah, Jakarta.


Riwayat Organisasi
Anggota PII, 1973
Andalan Koordinator Pramuka Gontor Bidang kesekretariatan, 1977 – 1978
Training HMI IAIN Yogyakarta, 1979
Sekretaris MIP PPI Madinah, Arab Saudi, 1981 – 1983
Ketua PPI Arab Saudi, 1983 – 1985
Ketua Yayasan Al-Haramain, 1994
Deklarator PK (1998).
Ketua MPP PK (1998-1999).
Presiden PK & PKS (2000-2004).
Ketua FPKS DPRRI (2012-2014).
Wakil Ketua Majlis Syura PKS (2015-2025).
Ketua Majlis Tahkim/Mahkamah Partai (2016-2021).
Wakil Ketua Dewan Penasehat ICMI Pusat
Ketua Dewan Penasehat IKADI
Ketua Badan Wakaf Pondok Modern Darussalam Gontor
Anggota Dewan Penasehat KAICIID (King Abdullah bin Abdulaziz International Centre for Interreligious and Intercultural Dialogue), Wina, Austria
Anggota Majelis Tinggi Muslim World League, Makkah Al-Mukarramah, Arab Saudi
Tanda Penghargaan

– Bintang Penghargaan: Mahaputera Adi Pradana (2008)

Tinggalkan komentar

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai